Belajar Totalitas Kerja Dari Tukang Tambal Ban

  • warning: preg_replace() [function.preg-replace]: Compilation failed: disallowed Unicode code point (>= 0xd800 && <= 0xdfff) at offset 1816 in /home/u233797337/public_html/modules/search/search.module on line 333.
  • warning: preg_replace() [function.preg-replace]: Compilation failed: disallowed Unicode code point (>= 0xd800 && <= 0xdfff) at offset 1816 in /home/u233797337/public_html/modules/search/search.module on line 333.
  • You must include at least one positive keyword with 3 characters or more.

Sebagai tradisi yang sudah berjalan bahwa ketika waktu idul fitri seluruh sanak keluarga berkumpul di kampung. Mereka yang sehari-hari merantau ke kota besar untuk mengadu rezki berpulang kampung untuk bertemu keluarga, begitu juga yang terjadi pada penulis pada liburan lebaran 1434H tahun ini.

Bermula dari pemberitahuan teman lewat sms bahwa dia akan pergi ke jawa pada hari ke 4 syawwal 1434 H untuk mengurus legalisir ijazah yang kebetulan dulu sahabat ini belajar di jawa. Karena sudah lama tidak bertemu, maka penulis pun menyempatkan diri untuk bertemu walaupun perjalanan dari rumah ke tempat kuliah sahabat tersebut memakan waktu kurang lebih 3 Jam.

Karena sahabat ini merupakan teman yang baik, tidak ada ruginya menemuinya dan membantu proses kelancaran legalisirnya. Berangkat pada waktu sore dan sampai maghrib. Namun sayang sehabis shalat maghrib saya cek ban ternyata ban belakang bocor.

Maka dengan mengendarai motor pelan-pelan sambil mencari tempat tambal ban. Sekilas tukang tambal ban terlihat tidak bersahabat, namun dengan pendekatan personal akhirnya keadaan lumayan cair dan akhirnya tukang tambal ban tersebut bisa diajak berbicara dengan baik. Berikut diantara petikan percakapan saya (Adik) dan tukang tambal ban (Bapak).

Bapak : Adik kok tahu bahwa ada tambal ban disini

Adik : Iya pak tadi shalat maghrib di masjid dekat sini, terus saya berjalan aja tak tentu arah dan mendapatkan tempat bapak ini.

Bapak : ooo kirain ada yang kasih tahu dik

Adik : tidak pak

Bapak : Iya sengaja memang tidak saya pasang plang pada tempat tambal ban saya karena saya tidak mau menambal ban kalau hati dan pikiran saya tidak tenang.

Adik : Kok begitu pak ? Bukannya bapak juga butuh menafkahi anak istri di rumah ?

Bapak : Memang dik saya harus menafkahi anak istri di rumah, namun kalau hati dan pikiran saya tidak tenang saya tidak sungguh-sungguh mengerjakannya dan pasti hasilnya tidak maksimal dan kalau hasilnya tidak maksimal bisa jadi nanti bocor lagi bannya.

Adik : Dalam hati berkata, baik sekali tukang tambal ban ini, dalam melakukan pekerjaannya beliau tidak semata-mata mencari uang tanpa memikirkan hasil tambalannya.

Bapak : Lo dek kok malah bengong ?

Adik : oo tidak pak.

Bapak : Adik bukan orang sini yaa

Adik : Iya pak

Bapak : Memang adik dari mana ?

Adik : Saya dari kota N pak

Bapak : Saya pernah dulu main bola lo disana

Adik : Kok main bolanya sampai jauh pak, memang dalam rangka pertandingan apa ?

Bapak : Pertandingan antar kampus

Adik : Dalam hati berkata, pantas saja ternyata dia keluaran perguruan tinggi

Begitulah sebagian percakapan antara saya dan tukang tambal ban tersebut. Setelah proses tambal ban selesai dan membayar biaya tambal bannya saya pamit ke bapak tukang tambal ban dan menuju ke tempat teman saya berada. Apakah sobat belajar online sudah memperhatikan pembeli/pemakai jasa yang sobat online kelola ?